Jadi Ibu yang Bahagia

Sadar ga sih kalo dalam diri kita selalu ada celah untuk direnungkan, yang kemudian ujung-ujungnya bikin kita insekyur atau bersyukur, kita lah yg menentukan sikap mana yg mau kita ambil.

Insekyur memang jauh lebih mudah dibanding bersyukur. Ketika kita milih bersyukur, beberapa dari kita biasanya muter otak dulu, ya setidaknya utk sengaja membanding-bandingkan dg hal yg menurut kita tidak lebih baik dari kita, baru deh kita bisa bersyukur. Ya, “energi” utk bersyukur emang jauh lebih banyak. Tapi ya itulah tantangannya, bersyukur “doang” pun adalah macam dari tantangan, kita ditantang untuk bersyukur, bisa ga, bersyukur dengan ikhlas dan tulus? (Ini aku berasa ngomong ke diri sendiri deh)

Semenjak jadi seorang ibu, rasanya aku ga lulus lulus pada bab “bersyukur dengan ikhlas”. Jadi ibu itu ternyata tantangannya banyaaak sekali. Apalagi buat aku yang udah memutuskan untuk tinggal jauh dari orangtua. Ngurus Saka ya hanya berduaan dengan abanya.

Terkadang ketika sedang diuji oleh ulah ulah ajaibnya Saka, tekad ini goyah, suka ada yang berbisik menyuruhku untuk menyerah saja. Tapi ya menurutku, naik turunnya tekad itu biasa. Kadang ketika sedang down banget, semangatku bisa membara lagi hanya karena tingkah menggemaskannya Saka yang bikin ketawa, atau pelukan dari abanya Saka. Pelukan abanya Saka itu udah kayak bahan bakar deh buat aku, bikin aku semangat lagi. Aku selalu menganggap bahwa detak jantung abanya Saka yang selalu aku dengar saat aku memeluknya, adalah teriakan yang menyemangati aku. “Deg deg deg deg” bunyi detak jantungnya bagaikan teriakan “bisa bisa bisa bisa!”. Detak jantungnya lebih menggebu daripada orangnya. Ketika sedang merasa down, sebenarnya kita hanya butuh waktu untuk sendiri, untuk merenung, guna mengingat kembali hal-hal yang bikin bahagia sehingga semangat kita jadi ON lagi.

Aku yang tadinya seorang pekerja, dan berhenti setelah punya anak, sungguh butuh waktu lama untuk akhirnya aku bisa menerima keadaan ini. Jadi orang yang bebas ini itu, kemudian harus beradaptasi dengan segala hal tentang “menjadi ibu”. Aku merasakan bahwa duniaku berubah, aku tidak punya teman, aku kesepian, aku capek ngurus bayi dll. Semuanya sudah aku rasakan. Ternyata memang semuanya harus aku rasakan supaya aku benar-benar bisa menerima ini semua.

Sungguh sulit, bahkan aku masih ingat suara tertawa teman-temanku di kantor ketika salah satu teman sedang kami jahili. Aku masih ingat suara pintu toilet yang kuncinya tidak bisa rapet itu. Aku masih ingat rasanya kena tetesan AC bocor yang letaknya tepat di atas meja kerjaku. Jujur aku kadang menangis jika ingat itu semua, apalagi ketika saat ini melihat dari update-an story mereka yang betapa serunya melakukan berbagai hal bersama-sama, lalu aku dalam hati sering berkata “harusnya aku ada di situ”. Tapi kenapa aku begitu? Apa aku belum ikhlas? Itu adalah pertanyaan dulu yang sekarang tidak aku pertanyakan lagi kepada diriku sendiri. Sungguh, sekarang aku sudah ikhlas. Tapi setelah ikhlas akan hal itu, kita diuji lagi untuk bisa ikhlas akan hal yang lainnya. Sejatinya hidup itu adalah tentang bisa ikhlas dari satu hal ke hal lain, dan begitu seterusnya.

“Ketika teman-teman se-usiaku sedang sibuk meniti karir, sedangkan aku?
Teman-teman aku di umur yang sama denganku, pada keren banget deh, lanjut sekolah ke luar negeri, ada yang kerja di tempat bagus, aku……. cuma jadi IRT” ujian bab keikhlasan datang lagi, datang lagi. Lalu aku sadar, jadi IRT bukan hal yang buruk. Lagipula, aku sendiri yang memilih jalan ini. Sekarang yang harus aku lakukan adalah menjalankan peran ini dengan sebaik-baiknya.

Semenjak jadi istri dan jadi ibu, sebelumnya aku tidak pernah merasakan senang se-senang saat suamiku berkata “hm ini pisang gorengnya enak!”, “Wah ini masakan kamu enak!” Atau merasa senang saat aku sebagai seorang ibu, segitunya berarti untuk anakku karena dia yang sangat gak bisa jauh dari aku. Dia sangat membutuhkan aku, aku merasa sangat berarti.

Untuk hal “teman-temanku udah pada jadi abcd, kok aku jadi IRT”, ah pikiran itulah yang bikin susah bersyukur. Padahal, siapa tau bahwa hal yang tak kita syukuri, justru orang lain sangat menginginkan itu? Kita udah terlalu pintar untuk membandingkan diri dengan yang lain sampe jadi insekyur, kita udah terlalu pintar untuk mengeluh. Sekarang kita belajar untuk pintar bersyukur dengan ikhlas yuk?

Pernah denger kan kalo dunia adalah panggung sandiwara? Kalo gitu, di dalamnya pasti ada berbagai macam peran. Saat ini aku kebagian peran jadi seorang full-time ibu dan istri.  Siapapun dan dengan peran apapun, ayo jalani dengan bahagia, kita semua berhak bahagia:)

Tinggalkan komentar